Buat banyak orang Indonesia, TOEFL bukan sekadar tes bahasa Inggris. Tes ini sering jadi syarat masuk kuliah, melanjutkan studi ke luar negeri, hingga syarat kerja di perusahaan besar. Sayangnya, banyak peserta TOEFL terkendala pada satu hal yang tampak sederhana tapi krusial: kosakata (vocabulary).
Berdasarkan penelitian di Universitas PGRI Sumatera Barat, mahasiswa mengalami kesulitan besar dalam menjawab bagian membaca TOEFL karena keterbatasan kosakata. Mereka tidak hanya kesulitan memahami vocabulary questions, tapi juga gagal menangkap detail tersirat (implied detail), detail tersurat (stated detail), bahkan ide pokok bacaan. (repo.upgrisba.ac.id).
Hal yang sama ditemukan pada penelitian lain di MA Ma’arif NU 02 Sidorejo. Hasil riset menunjukkan bahwa aspek kosakata merupakan faktor paling sulit dalam reading, dengan tingkat kesulitan mencapai 75% dari rata-rata siswa (jurnal.saburai.id). Angka ini cukup tinggi dan menunjukkan bahwa kosakata memang kunci penting dalam persiapan TOEFL.
Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa memperkuat vocabulary, khususnya untuk mendongkrak skor di Reading dan Structure Section? Yuk, kita bahas langkah-langkahnya satu per satu.

1. Pahami Pola Vocabulary dalam TOEFL
Vocabulary dalam TOEFL tidak selalu sekadar hafalan kata sulit. Ada beberapa pola soal yang biasanya muncul, misalnya:
- Vocabulary in Context: menanyakan arti kata tertentu dalam bacaan.
- Synonym Questions: mencari kata dengan makna yang sama.
- Inference Questions: memahami makna tersirat berdasarkan kata atau kalimat.
Dengan memahami pola ini, kamu tidak lagi sekadar menghafal kata, tapi juga berlatih melihat bagaimana kata itu digunakan dalam konteks akademik.
2. Bangun Kosakata Bertahap dengan Word List TOEFL
Banyak lembaga bahasa menyarankan untuk memulai dari TOEFL Word List. Beberapa daftar populer, misalnya Barron’s Essential Words for the TOEFL, biasanya mencakup 450–600 kosakata akademik yang paling sering muncul.
Tips sederhana untuk menguasai word list:
- Buat flashcard (fisik atau aplikasi seperti Quizlet).
- Catat kata, arti, contoh kalimat, lalu uji diri secara rutin.
- Gunakan teknik spaced repetition agar kata yang dipelajari lebih lama tersimpan di memori.
3. Fokus ke Academic Vocabulary
TOEFL banyak menggunakan teks akademik. Artinya, kosakata yang sering keluar juga kosakata akademik. Sebuah riset dari Coxhead (2000) memperkenalkan Academic Word List (AWL), yang berisi sekitar 570 kelompok kata yang umum dalam teks ilmiah.
Dengan mempelajari AWL, kamu tidak hanya siap menghadapi TOEFL, tapi juga terbiasa dengan bahasa akademik yang akan berguna di kuliah atau penelitian.
4. Belajar Vocabulary Lewat Bacaan Asli
Banyak peserta TOEFL hanya mengandalkan buku latihan. Padahal, cara tercepat memperkuat kosakata adalah dengan membaca bacaan asli yang mirip dengan teks TOEFL, seperti:
- Artikel dari National Geographic, Scientific American, atau Smithsonian.
- Jurnal akademik ringan atau artikel populer di bidang sains, sejarah, dan budaya.
Setiap kali menemukan kata baru, tandai dan cari maknanya. Semakin sering kamu membaca, semakin cepat kamu mengenali pola kata yang sering muncul.
5. Gunakan Teknik “Word Families”
Daripada menghafal kata satu per satu, cobalah mempelajari word families. Misalnya:
- “Analyze” (verb) → “Analysis” (noun) → “Analytical” (adjective).
- “Significant” (adj) → “Significance” (noun) → “Significantly” (adverb).
Dengan teknik ini, kamu bisa memperluas kosakata 3–4 kali lipat hanya dari satu akar kata.
6. Latihan dengan Soal TOEFL Asli
Kosakata tidak akan berguna jika tidak dipraktikkan. Cobalah berlatih dengan soal-soal TOEFL Reading dan Structure.
Dalam penelitian di Bung Hatta University, mahasiswa menunjukkan kesulitan moderat hingga tinggi pada berbagai jenis soal reading TOEFL, termasuk vocabulary dan ide pokok bacaan (ejurnal.bunghatta.ac.id). Data ini menunjukkan bahwa latihan langsung dengan soal asli sangat penting untuk mengukur pemahaman dan meningkatkan kecepatan.
7. Konsistensi dan Manajemen Waktu
Sering kali, masalah vocabulary bukan sekadar kemampuan, tapi juga konsistensi belajar.
Penelitian di Universitas Sumatera Utara mencatat bahwa mahasiswa kesulitan menghadapi TOEFL karena kurang manajemen waktu belajar dan minim latihan (jurnal-lp2m.umnaw.ac.id). Jadi, buatlah jadwal belajar kecil tapi konsisten, misalnya:
- 15 menit sehari untuk mempelajari 5–10 kosakata baru.
- 30 menit membaca artikel akademik ringan.
- 10 menit mengulang kosakata lama dengan flashcard.
Kunci utamanya adalah rutin, bukan intensitas sesaat.

Kesimpulan
Menguasai vocabulary TOEFL memang bukan hal mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Data dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa kosakata adalah salah satu penghambat terbesar bagi peserta TOEFL di Indonesia—bahkan 75% siswa mengaku kesulitan di aspek ini.
Namun dengan strategi yang tepat—mulai dari memahami pola soal, memanfaatkan word list, membaca teks akademik, hingga konsisten berlatih—kamu bisa meningkatkan kemampuan vocabulary secara bertahap. Hasilnya? Skor TOEFL Reading dan Structure pun akan ikut naik.
Jangan lupa, kosakata bukan hanya untuk melewati TOEFL. Ia juga akan jadi bekal penting untuk dunia akademik, karier, dan komunikasi internasional. Jadi, mulai sekarang, yuk luangkan sedikit waktu setiap hari untuk memperkuat vocabulary!
👉 Kalau kamu sedang mempersiapkan TOEFL dan butuh panduan lebih sistematis, kamu bisa coba mengikuti kursus persiapan TOEFL di lembaga bahasa terpercaya. Dengan bimbingan mentor dan materi yang terstruktur, belajar vocabulary akan terasa lebih mudah dan terarah.

